Minggu, 27 November 2011

cerita cinta seorang muslim

Cinta Seorang Pendeta dan Muslimah

OPINI | 19 January 2011 | 07:5450885 255  9 dari 10 Kompasianer menilai Inspiratif
Ungkapan, “Bagimu agamamu; bagiku agamaku” terasa mudah dilaksanakan ketika dinding-dinding yang menjadi pemisah masih tegak berdiri: umat menyembah Tuhan di masing-masing rumah ibadah. Dengan demikian, sebuah bangunan menjadi dinding pemisah untuk memastikan tak ada kebercampuran, tak ada sinkretisme, sehingga kesucian dan kemurnian ritual tetap terjaga, pergesekan tak perlu ada. Kita semua percaya, hanya dengan cara itu hidup berdampingan yang selaras bisa terus terpelihara.
Tapi, sebagaimana jutaan kisah telah bersaksi, kebolehjadian di alam semesta tak pernah tunduk kepada kotak-kotak yang dibikin manusia. Bukan cerita baru jika kita mendapati sebuah rumahtangga yang terdiri dari suami yang beragama Islam, istri yang beragama Katolik, atau sebaliknya. Juga keluarga campuran yang terdiri dari suami-istri yang menganut agama berbeda lainnya. Di rumah tangga seperti ini, dinding-dinding pemisah telah rubuh; masing-masing pihak berpegang teguh kepada cinta.
Setelah menulis “Mata Fariz RM Berkaca-kaca,” saya memiliki ratusan teman baru di jejaring sosial Facebook. Sebagian dari mereka ternyata berdiam di rumahtangga berbeda agama yang merasa diteguhkan oleh tulisan tersebut. Mereka berkata, “tulisan mbak membuat saya tak lagi kesepian”.
Mereka membuka rumahtangga dengan beralaskan cinta. Masing-masing membuat kesepakatan untuk dipatuhi, terutama soal pendidikan anak. Tak semua berjalan mulus karena salah satu pihak mulai memperlihatkan dominasinya. Soal-soal bermunculan ketika tiba pada titik tertentu dalam usia anak-anak mereka: disunat, dibaptis, katekisasi, dan lain-lain. Sebagian besar tentang kelakuan ‘mendominasi’ ini dimunculkan para suami yang selalu merasa dirinya sebagai Imam, pemimpin keluarga. Gender ternyata menjadi isyu penting yang membatalkan kesepakatan pra-nikah.
Kita tentu tahu, cinta adalah satu-satunya hal di alam semesta ini yang tumbuh, hadir, dan mekar tanpa alasan. Itu sebabnya, ada ungkapan yang sangat terkenal, cinta pada pandangan pertama. Seorang lelaki tak berkemampuan mengingkari rasa cinta yang tumbuh begitu saja saat berkenalan dengan seorang perempuan, demikian pula sebaliknya. Banyak orang kehilangan petunjuk untuk menemukan alasan dia jatuh cinta. Dan ketika geloranya semakin dahsyat, sebuah pasangan tiba-tiba merasa sanggup melampaui perbedaan yang ada.
Itu pula yang terjumpa dalam beberapa cerpen pada buku Dari Sebuah Guci (www.darisebuahguci.com). Cerpen Tulang Rusuk, misalnya, berkisah tentang cinta terlarang yang sejak lama dibilang ‘haram’. David berkenalan dengan Irma di sebuah bis antarkota. Irma belum makan, perutnya mual, bis berjalan terhuyung pada jalanan yang berlubang. David yang duduk di sebelah Irma berusaha menolong, meringankan penderitaan. Tapi, Irma akhirnya muntah, di pangkuan David.
Bis mengalami kerusakan, mereka terpaksa menginap di losmen kecil. Irma tak siap, uangnya tak cukup. David menawari Irma untuk tidur sekamar. “Aku di lantai beralas selimut, kamu di ranjang,” kata David. Di tengah malam, Irma tak tega, dia menawari David naik ke atas.
“Apa aku dapat mempercayaimu?”
“Kau boleh sambil memegang gunting”
Aku mengingsut ke sisi tempat tidur, menyisakan setengah untuk David yang segera menyelusup ke bawah selimut. Meski berhati-hati, tetap saja ada bagian tubuh kami teradu. Ujung-ujung kaki. “Ups, sori,” ia setengah berbisik, amat kikuk. Ada sungging senyum di hati.
(Tulang Rusuk, Harnata Simanjuntak, Dari Sebuah Guci, hal 43)
Irma, seorang muslimah, kemudian hamil. Skandal besar terkuak: David ternyata seorang pendeta. ‘Dihamili Pendeta’ tentulah atribut yang menggemparkan. Tapi, Harnata, sang penulis bertutur lancar tanpa sedikit pun kuatir dengan tanggapan pembaca yang –bisa saja- terbakar. Harnata berkabar tentang keindahan cinta dan kebolehjadian (plausibility) di alam semesta yang tidak bisa dibatasi hukum-hukum agama, melainkan oleh hukum alam itu sendiri.
12953979761288442585
Cerpen Moksa yang ditulis Rudolph X. Damanik (Alof) juga tak kurang nekad. Dia bertutur tentang Pak Tua, lelaki Katolik yang menikah dengan Mak Tua, seorang muslimah. Pak Tua berupaya hidup dalam keselarasan. 3 kali dia menemani istrinya menunaikan ibadah haji meski menderita penyakit kanker. Dalam keselarasan, tak ada lagi yang perlu digugat, kata Pak Tua.
Setelah menjalani sakit yang panjang, Pak Tua akhirnya meninggal dunia. Dua pihak keluarga bertengkar soal ritual penguburannya: secara Katolik, atau secara Islam? Masing-masing rupanya merasa perlu memastikan dimana tempat Pak Tua kelak: neraka atau surga. Padahal, barangkali, itu isyu yang sudah selesai dibahas bersama Mak Tua sewaktu dia masih hidup.
Perhatikan lagu Dalam Perih Ku Berbisik Lirihyang menjadi lagu tema bagi cerpen Moksa. Syairnya merupakan tembang cinta berbalasan antara Pak Tua dan Mak Tua. Fariz RM, seorang muslimin, menyanyikan bagian syair Pak Tua, beragama Katolik, yang mendoakan istrinya; Mikaela Sadler, gadis Protestan, menyanyikan bagian syair Mak Tua, muslimah yang mendoakan suaminya.
Pak Tua (Fariz RM):
dalam perih ku berbisik lirih
novena tuk yang tak teraih:
kiranya langit membentangkan berkat
di sepanjang hayat
Mak Tua (Mikaela Sadler):di shalatku pun terucap muram
di tahajud yang membelah malam
kiranya langit melingkup tubuhmu
memulihkanmu, kekasih.
Surga memang kerap jadi biang kerok perselisihan. Di banyak rumah tangga berbeda agama, seiring pertambahan usia, sang Imam merasa berkewajiban memimpin istri dan anak-anak untuk bersiapdiri memasuki kehidupan yang kekal. Ketika istri menolak berpindah agama, sang suami memutuskan untuk –paling tidak- ‘menyelamatkan’ anak-anaknya. Kesepakatan ‘soal agama akan kita serahkan kepada anak-anak untuk memilih sendiri pada saatnya nanti’ hancur berantakan karena sang Imam meyakini hanya umat yang memeluk agamanyalah yang akan jadi penghuni surga kelak. Kita menemukan ironi yang lebih pahit daripada buah pare: saya dan anak-anak masuk ke surga; istri, biarlah, masuk ke neraka karena dia tak mau mendengar.
Surga ternyata lebih kuat daripada cinta. Surga pada akhirnya justru menghadirkan keterpisahan dan menumbuhsuburkan pementingan diri yang menjijikkan: sang suami sanggup memandangi istrinya terpanggang sendirian di api neraka. Maksud saya, tak ada sedikit pun keberanian dan kerelaan untuk bersikap: saya akan tetap bersamamu, baik di bumi, di surga, apalagi di neraka.
Jika bukan karena surga dan neraka, apa sebetulnya yang membuat seorang suami atau istri merasa terganggu jika pasangannya tetap memeluk agama yang diyakininya? Kenapa pula dia kuatir anak-anaknya akan memilih agama yang bukan dianutnya? Seseorang berkata, manalah mungkin shalawat nabi Muhammad SAW yang menolak keberlakuan penyelamatan melalui darah Yesus yang tercurah di kayu salib bisa bersanding bahkan bersahutjawab dengan Kyrie Eleison dan Berita Anugerah Pengampunan Dosa?
Lho, kenapa harus bersahutjawab? Bukankah mereka bisa berjalan berdampingan? Sang suami mengungkap pernyataan imannya, demikian juga sang istri. Tentu saja semua itu hanya bisa berlangsung jika masing-masing bersepaham bahwa Allah adalah sesuatu yang maha luas; Allah bukan sebuah titik. Karenanya, jalur yang ditempuh melalui agama Kristen dengan sudut kemiringan, katakanlah, 89 derajat ke kiri dari titik tengah akan membawa umatnya sampai ke hadirat Allah, sedemikian pula jalur yang ditempuh melalui agama Islam dengan sudut kemiringan, katakanlah, 89 derajat ke kanan dari titik tengah. Sekali lagi, karena Allah adalah bidang maha lebar yang nampak di depan. Allah menjangkau keragaman semesta. (seorang teman malah berkata, Allah adalah sebuah lingkaran yang melingkupi alam semesta. Kemana pun kita arahkan langkah, kita akan bersua denganNya.) Pemahaman semacam ini yang seharusnya jadi titik pijak pertama sebelum bersepakat membuka rumahtangga. Jika tidak, neraka tak perlu ditunggu hingga seusai wafat, dia akan datang jauh lebih cepat.
Selain daripada surga, lembaga keagamaan juga kerap jadi pengganggu. Sebuah kesaksian yang masuk ke inbox saya bertutur tentang seorang suami yang sudah sekian tahun tak bisa mengikuti komuni karena pernikahannya yang berbeda agama tak diberkati di gereja. Sang suami gelisah, dia merasa ditolak di bumi maupun di surga. Pernikahan semacam itu agaknya betul-betul tak punya tempat di dalam agama-agama samawi. Mereka diberi stigmata neraka, tak jarang disinisi keluarga, dan megap-megap saat berhadapan dengan Yang Maha Kuasa.
Dari titik inilah, dugaan saya, para pelaku perkawinan campur ini akan melakukan justifikasi. Surga dan Neraka tak lagi penting, sekadar iming-iming. Dan karenanya, agama tak lagi bikin merinding. Di bioskop, ruang baca, musik, teater, orang-orang menemukan kesaksian mutakhir betapa cinta berdaya menjembatani segenap perbedaan –kesaksian-kesaksian yang jauh lebih kuat daripada khotbah-khotbah Jum’at mau pun Minggu.
Akhirnya, saya perlu berseru kepada para perempuan: jangan pernah mau berganti agama dengan agama yang dianut suami kalian untuk sekadar urusan surga. Katakan kepada suamimu:
“ada sejarah panjang yang kulalui, sejarah yang justru mengantarku bertemu dan bersatu denganmu, sejarah yang tak perlu kulucuti karena dia betul-betul bernilai luhur. Perjumpaan kita malah membuatku yakin dengan kebenaran yang kuanut maupun yang kamu anut. Karena itu, aku percaya, kita akan tetap bersama di surga kelak. Namun, jika pun percayaku keliru –agama yang kuanut ternyata membawaku ke surga, dan agama yang kamu anut membawamu ke neraka, akan kuseb’rangi jurang yang memisahkan kita untuk mendampingimu di pembakaran itu. Karena, tak ada satu pun yang dapat menceraikan kita. Tidak dunia, tidak surga, apalagi neraka.
Saya bermaksud menayangkan 2-3 tulisan bersambung yang berkisah tentang kehidupan rumah tangga berbeda agama, termasuk bagaimana pemahaman mereka tentang surga dan neraka. Jika anda ingin berbagi, sila layangkan kisah sejati (nyata) anda berikut foto diri ke muna@pojokmuna.com. Kisah-kisah yang masuk akan saya sunting dan kompilasi ke dalam satu tulisan panjang untuk selanjutnya kita hamburkan guna menguatkan pasangan-pasangan lain yang mungkin sedang berjuang menegakkan rumahtangganya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar